Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan , tidak mudah untuk mendefenisikan kemiskinan, karena kemiskinan itu mengandung unsur ruang dan waktu (Maipita, 2013). Konsep kemiskinan pada zaman perang akan berbeda dengan konsep kemiskinan pada zaman merdeka dan modern sekarang ini. Seseorang dikatakan miskin atau tidak miskin pada zaman penjajahan dahulu akan berbeda dengan saat ini. Demikian juga dari sisi tempat, konsep kemiskinan di negara maju tentulah berbeda dengan konsep kemiskinan di negara berkembang dan terkebelakang. Mungkin keluarga yang tidak memiliki televisi atau kulkas, seseorang yang tidak dapat membayar asuransi kesehatan, anak-anak yang bermain tanpa alas kaki, seseorang yang tidak memiliki telepon genggam, akses internet dan lainnya di negara-negara Eropa dapat dikatakan miskin. Namun tidak demikian di negara kurang berkembang seperti negara-negara di Afrika.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
1. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan , dikarnakan kekurangan uang biasanya .
2. Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.
3. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan diluar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarang.
Penyebab Kemiskinan
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
1. penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
2. penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga.
3.penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.
4. penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Contoh lainnya adalah perbudakan.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan, bisa dibilang masalah kemiskinan ini sulit untuk diatasi dan masalah seperti ini harus di bersihkan dari atasnya contohnya dari pemerintahnya yang korupsi di bersihkan dulu baru deh liat kebawah jangan langsung terjun kebawah tapi diatasnya masih belom bersih
Ciri-ciri manusia yg berada di bawah kemiskinan
Mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tidak memiliki faktor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan, Dll.
2.
Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan
kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal
usaha.
3. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat SD.
4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas.
5. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.
6. Tidak memiliki kemauan akan kesuksesan seperti orang pemalas yang malas berkerja
sebenarnya kalo mau memiliki perkerjaan gampang tidak tamat sd bisa berkerja asalkan ada kemauan kalo hanya meminta-minta mana bisa mendapatkan uang mungkin menurut mereka hidup dikota itu akan bisa mendapatkan pekerjaan mereka lupa dikota itu keras tidak gampang mencari perkerjaan, tapi walaupun seperti itu mereka memiliki banyak manfaat atau fungsi-fungsi sebegai berikut .
Fungsi-Fungsi Orang Miskin
Pertama : adalah menyediakan tenaga kerja untuk pekerjaan kotor, tidak terhormat, berat, berbahaya, tetapi di bayar murah.
Kedua : adalah menambah atau memperpanjang nilai guna barang atau jasa.
Baju bekas yang sudah tidak terpakai dapat di jual (atau dengan bangga
di katakan ”di infakan”) kepada orang-orang miskin.
Ketiga : adalah mensubsidi berbagai kegiatan ekonomi yang menguntungkan
orang-orang kaya. Pegawai-pegawai kecil, karena di bayar murah, petani
tidak boleh menaikan harga beras mereka untuk mensubsidi orang-orang
kota.
Keempat : adalah menyediakan lapangan kerja, bagaimana mungkin orang
miskin memberikan lapangan kerja? karena ada orang miskin lahirlah
pekerjaan tukang kredit (barang atau uang) aktivis-aktivis LSM (yang
menyalurkan dana dari badan-badan internasional lewat para aktivis yang
belum mendapatkan pekerjaan kantor) belakangan kita tahu bahwa tidak ada
komunitas yang paling laku di jual oleh negara ketiga di pasaran
internasional selain kemiskinan.
Kelima : adalah memperteguh status sosial orang-orang kaya, perhatikan
jasa orang miskin pada perilaku orang-orang kaya baru. Sopir yang
menemaninya memberikan label bos kepadanya. Nyonya-nyonya dapat
menunjukan kekuasaannya dengan memerintah inem-inem (pembantu) mengurus
rumah tangganya.
Kemiskinan
lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada di bawah garis kemiskinan
apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang
paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain.
Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga
hal :
1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan.
2. Posisi manusia dalam lingkungan sekitar.
3. Kebutuhan objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
biasanya hal ini dimanfaatin oleh oknum-oknum yang tidak memiliki belah kasihan terhadap mereka yang kurang memiliki kemampuan , keuangan ataupun kurang memiliki ilmu atau pengetahuan dan mereka dilakukan seperti orang bodoh .
Konsep kemiskinan di Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs approach) dalam menentukan kemiskinan di Indonesia. Seseorang tergolong dalam kategori miskin bila ia tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs), dengan kata lain, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar, baik makanan maupun nonmakanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
Penggunaan pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar dalam mementukan kemiskinan tidak hanya dilakukan oleh BPS, tetapi juga beberapa negara lain seperti Armenia, Nigeria, Senegal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Sierra Leone dan Gambia (BPS, 2012).
Batas kecukupan kebutuhan makanan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk makanan tertentu yang memenuhi kebutuhan minimum energi 2100 kilo kalori per kapita per hari. Sedangkan batas kecukupan nonmakanan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan nonmakanan seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi dan lain-lain.
Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi tahun 1978 dan dilaksanakan sejak tahun 1993. Sedangkan paket kebutuhan dasar nonmakanan mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke tahun disesuaikan dengan perubahan pola konsumsi penduduk. Pada periode sebelum tahun 1993 terdiri dari 14 komoditi di perkotaan dan 12 komoditi di pedesaan. Pada saat ini berkembang menjadi 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.
Di awal pasca krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1988, proporsi rata-rata pengeluaran perkapita untuk makanan jauh lebih besar daripada pengeluaran untuk nonmakanan. Namun selisih ini semakin mengecil seiring dengan perbaikan perekonomian dan pengurangan angka kemiskinan (Maipita, 2013).
Secara luas “miskin” dapat diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang
atau keluarga dalam memenuhi kebutuhannya, mencakup kebutuhan ekonomi,
sosial, politik, emosional maupun spiritual. Pengertian ini memang
terlalu luas dan tidak operasional sehingga sulit untuk diukur. Oleh
karena itu, pengertian “miskin” itu biasanya dipersempit hanya miskin
secara ekonomi. Di Indonesia, pengertian ini dipersempit lagi sebagai
ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar,
berupa kebutuhan pangan dan nonpangan.
Sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=303573:memahami-konsep-kemiskinan&catid=25:artikel&Itemid=44
http://www.tugasku4u.com/2013/06/pengertian-kemiskinan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar