Setiap orang pasti pernah berada di dalam sebuah kelompok dengan tujuan yang sama , termasuk juga anda. ceritakanlah pengalaman anda berada didalam sebuah kelompok belajar ataupun kelompok bekerja , dan keputusan apa yang pernah anda ambil untuk kelangsungan kelompok tersebut ?
Pengalaman saya didalam sebuah kelompok belajar atau disebuah kelompok organisasi pada saat itu kelompok kami sedang diguncang masalah , masalahnya adalah teman kelompok kami si A tidak dapayt hadir saat presentasi padahal dia yang akan mempresentasikan hasil kerja kelompok kami sesuai dengan kesepakatan diawal bahwa dia yang akan memperkenalkan hasil kerja kelompok kami didepan kelas , nah dikarnakan saya ketua kelompoknya saya disitu harus menggambil keputusan bahwa saya yang akan menggantikan tugas dari si A tersebut karna tugas seorang ketua kelompok seperti itu bukan hanyya dia yang mengatur dan bertanggung jawab terhadap kelompoknya tetapi dia juga bertanggung jawab terhadap semuanya .
Sabtu, 02 Mei 2015
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
A. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan sangat penting
dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin (manajer).
Pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh pengambilan keputusan
(decision maker) yang hasilnya keputusan (decision).
Definisi-definisi Pengambilan
Keputusan Menurut Beberapa Ahli :
1. G. R. Terry : Pengambilan
keputusan dapat didefinisikan sebagai “pemilihan alternatif kelakuan tertentu
dari dua atau lebih alternatif yang ada”.
2. Drs. H. Malayu S.P
Hasibuan: Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang
terbaik dari sejumlah alternatif untuk melakukan aktivitas-aktivitas pada masa
yang akan datang.
3. Harold Koontz dan Cyril
O’Donnel: Pengambilan keputusan adalah pemilihan di antara
alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak—adalah inti dari perencanaan.
Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber
yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan
keputusan adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk masalah. Secara umum
pengambilan keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih
alternatif solusi yang ada.
B. Faktor-Faktor yang
terkait dengan Pengambilan Keputusan
Untuk
menentukan pilihan dari berbagai teori pengambilan keputusan baik itu rasional,
inkremental atau pengamatan terpadu dengan beberapa alternatif pilihan yang
tersedia. Tentu masing-masing harus mempunyai dasar (nilai-nilai, norma-norma,
atau pedoman tertentu) yang digunakan sebagai landasan dalam menentukan pilihan
teori yang tepat.
Menurut Terry (1989) dalam blog Komunitas Diamond faktor-faktor
yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
1. Hal-hal yang berwujud maupun tidak
berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan
keputusan;
2. Setiap keputusan nantinya harus dapat
dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi;
3. Setiap keputusan janganlah berorientasi
pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain;
4. Jarang sekali ada 1 pilihan yang
memuaskan;
5. Pengambilan keputusan merupakan tindakan
mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik;
6. Pengambilan keputusan yang efektif
membutuhkan waktu yang cukup lama;
7. Diperlukan pengambilan keputusan yang
praktis untuk mendapatkan hasil yang baik;
8. Setiap keputusan hendaknya dikembangkan,
agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; dan
9. Setiap keputusan itu merupakan tindakan
permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi
pengambilan keputusan.
a) Fisik
Didasarkan
pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan.
Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang,
sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
b) Emosional
Didasarkan
pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara
subyektif.
c) Rasional
Didasarkan
pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan
berbagai konsekuensinya.
d) Praktikal
Didasarkan
pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai
potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuannya dalam bertindak.
e) Interpersonal
Didasarkan
pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang
lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
f) Struktural
Didasarkan
pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil
yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono
(2009) menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan
keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan
keputusan, dan keterbatasan kemampuan. Dalam pengambilan suatu keputusan
individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian,
dan kecenderungan dalam pengambilan risiko.
Pertama, nilai individu
pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia
dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilai-nilai
ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan
keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berpikir
untuk menyusun atau menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk
menang.
Kedua, kepribadian.
Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis
seperti kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap
keputusan yang dibuat, seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus
objektivitas. Beberapa pengambil keputusan memiliki suatu orientasi ideologi
tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu
perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain
mendasarkan keputusannya pada suatu yang secara politis akan meningkatkan
kekuasaannya secara pribadi.
Ketiga, kecenderungan
terhadap pengambilan risiko. Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat
keputusan, perawat harus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi risiko,
karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut.
Ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan risiko
adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil
keputusan memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat
mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan di bawah ketidakpastian
dibanding di bawah kondisi bahaya. Di bawah ketidakpastian si pengambil
keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu strategi atas
strategi lainnya.
Selanjutnya Dalam Judul Skripsi Pengambilan
Keputusan yang tepat yang disusun Sumaryanto Sarjana Universitas Negeri
Yogyakarta, dalam pengambilan keputusan ada beberapa faktor yang mempengaruhi,
antara lain:
1. Posisi kedudukan
Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan
seseorang dapat dilihat, apakah ia sebagai pembuat keputusan (decision maker),
penentu keputusan (decision taker), ataukah staff (staffer).
2. Masalah
Masalah atau problem adalah apa yang menjadi
penghalang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa
yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan.
Sebenarnya, masalah tidak selalu dapat dikenal dengan segera, ada yang
memerlukan analisis, ada pula yang bahkan memerlukan riset tersendiri.
3. Situasi
Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam
keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama
memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat.
Situasi ini ada yang bersifat tetap dan ada juga yang berubah-ubah.
4. Kondisi
Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang
secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita.
Sebagian besar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya.
5. Tujuan
Tujuan
yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan
organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu / telah
ditentukan. Tujuan yang telah ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan
tujuan antara atau obyektif.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pilihan
Yang Etis
1. Manajer
Manajer membawa pengaruh berupa kepribadian dan
perilaku terhadap pekerjaan. Kebutuhan pribadi, pengaruh keluarga, dan latar
belakang agama seluruhnya membentuk sistem nilai seorang manajer. Karakteristik
pribadi yang khusus, seperti kekuatan ego, percaya diri, dan rasa kebebasan
yang kuat memungkinkan manajer untuk membuat keputusan yang etis.
Satu
karakter pribadi yang penting adalah tahap perkembangan moral. Pada tahap pra konvensional,
individu memerhatikan penghargaan dan hukuman dari eksternal dan mematuhi
otoritas untuk menghindari konsekuensi pribadi yang fatal. Dalam konteks
organisasi, tahap ini dapat dihubungkan dengan para manajer yang menggunakan
gaya kepemimpinan otoriter atau memaksa, dengan karyawan yang berorientasi pada
pencapaian tugas tertentu. Pada tahap kedua, yang disebut sebagai tahap
konvensi, orang mulai belajar untuk memenuhi ekspektasi perilaku yang baik
seperti yang dimaksudkan oleh para kolega, keluarga, teman, dan masyarakat.
Kolaborasi kelompok kerja merupakan cara yang lebih disukai untuk pencapaian
tujuan organisasi dan manajer menggunakan gaya kepemimpinan yang mendorong
hubungan antar pribadi dan kerja sama. Pada tahap pasca konvensional atau tahap
berprinsip, para individu dipandu oleh sekumpulan nilai dan standar internal
bahkan akan melanggar aturan atau hukum yang bertentangan dengan prinsip ini.
2. Organisasi
Dalam
organisasi, pengaruh yang penting terhadap perilaku yang etis adalah adanya
norma dan nilai tim, departemen, dan organisasi secara keseluruhan. Riset
menunjukkan bahwa nilai-nilai ini sangat memengaruhi tindakan dan proses
pengambilan keputusan oleh karyawan. Secara khusus, budaya perusahaan
memungkinkan karyawan tahu keyakinan dan perilaku seperti apa yang didukung
oleh perusahaan dan seperti apa yang tidak dapat ditoleransi oleh perlahan.
Budaya
dapat diamati untuk melihat jenis-jenis sinyal etika yang diberikan kepada para
karyawan. Standar etika yang tinggi dapat ditegaskan dan dikomunikasikan
melalui penghargaan publik atau upacara resmi.
Budaya
bukanlah satu-satunya aspek dari organisasi yang memengaruhi etika, namun
merupakan suatu kekuatan yang besar karena menentukan nilai-nilai perusahaan.
Aspek organisasi yang lain, seperti aturan dan kebijakan yang eksplisit, sistem
seleksi, penekanan pada standar hukum dan profesional. Serta proses
kepemimpinan dan pengambilan keputusan, juga dapat memengaruhi nilai etika dan
proses pengambilan keputusan oleh manajer.
Sumber : http://abdulhadimulyaramadhan.blogspot.com/2014/05/faktor-yang-mempengaruhi-dalam.html# " saya mengkutip dari blog ini , blog ini sudah cukup lengkap dan padat "
Sumber : http://abdulhadimulyaramadhan.blogspot.com/2014/05/faktor-yang-mempengaruhi-dalam.html# " saya mengkutip dari blog ini , blog ini sudah cukup lengkap dan padat "
Jenis-jenis Keputusan Didalam Organisasi
kali ini saya akan membahas jenis-jenis keputusan yang ada didalam organisasi , sebelum kita membahasnya lebih jauh sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu Pengambilan Keputusan
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
2.Dasar Pengambilan Keputusan
a.Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi yaitu : Pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan hati yang seringkali bersifat subyektif. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat, untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan sepihak dan bersifat perasaan.
Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini memberikan keuntungan, yaitu :
a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan
b. Pengambilan Keputusan Rasional : yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional berfikir dan lebih bersifat objektif. Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna pikir. Masalah–masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif dan dapat diukur.
c. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman : yaitu Pengambilan keputusan yang berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh sehingga dapat digunakan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis di kemudian hari.
d. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta : yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan data empiris dan fakta nyata sehingga dapat memberikan keputusan yang valid sehingga tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. Istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.
e. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang : yaitu pengambilan keputusan yang berdasarkan atas wewenang/kedudukan yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi pemimpin. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.
3.Jenis-Jenis Keputusan
Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dapat
dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara
beberapa alternatif yang tersedia. Setiap
proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keputusan
dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan atau tindakan.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yg berulang-ulang dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan
terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pd manjemen tingkat bawah. Contoh
keputusan pemesanan barang.
2. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yg tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi.
Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan
keputusan tdk terstruktur tdk mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan
biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg
sangat penting didalam pengambilan keputusan tdk terstruktur. Keputusan untuk
bergabung dengan perusahaan lain merupakan contoh keputusan tidak terprogram.
2.Dasar Pengambilan Keputusan
a.Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi yaitu : Pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan hati yang seringkali bersifat subyektif. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat, untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan sepihak dan bersifat perasaan.
Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini memberikan keuntungan, yaitu :
a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan
b. Pengambilan Keputusan Rasional : yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional berfikir dan lebih bersifat objektif. Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna pikir. Masalah–masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif dan dapat diukur.
c. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman : yaitu Pengambilan keputusan yang berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh sehingga dapat digunakan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis di kemudian hari.
d. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta : yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan data empiris dan fakta nyata sehingga dapat memberikan keputusan yang valid sehingga tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. Istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.
e. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang : yaitu pengambilan keputusan yang berdasarkan atas wewenang/kedudukan yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi pemimpin. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.
3.Jenis-Jenis Keputusan
Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat
digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil
keputusan tersebut, bagian mana organisasi harus dapat melibatkan dalam
mengambil keputusan dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut
difokuskan.
Secara garis besar jenis keputusan terbagi menjadi dua
bagian yaitu :
a. Keputusan Rutin
Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin
dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.
b. Keputusan tidak Rutin
Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil
pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pengambilan_keputusan
http://myblogsoniaregina.blogspot.com/2013/04/pengambilan-keputusan-dalam-organisasi.html " saya mengkutip blog ini untuk dari segi materi cukup lengkap cuman dari tulisan agak kurang soalnya terlalu full color agak kurang enak dibaca "
Langganan:
Postingan (Atom)