Jumat, 18 Maret 2016

Media Sosial Membuat Manusia Jarang Berinteraksi


Dalam era globalisasi ini teknologi semakin maju, tidak dapat dipungkiri hadirnya internet semakin dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kegiatan sosialisasi, pendidikan, bisnis, dan sebagainya. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh vendorsmartphone serta tablet murah yang menjamur dan menjadi trend . Hampir semua orang di Indonesia memiliki smartphone , dengan semakin majunya internet dan hadirnya smartphone maka media sosial pun ikut berkembang pesat.

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dengan menerapkan satu set teori-teori dalam bidang media penelitian (kehadiran sosial, media kekayaan) dan proses sosial (self-presentasi, self-disclosure).

Media sosial merupakan situs dimana seseorang dapat membuat web page pribadi dan terhubung dengan setiap orang yang tergabung dalam media sosial yang sama untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast , maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas. 

Di Indonesia sendiri Hal menarik pertama yang kita temukan adalah sebuah fakta bahwa pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angkat 88,1 Juta. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang ada 252,4 Juta, maka dapat dikatakan bahwa penetrasi pengguna internet di negara ini mencapai 34,9%. Angka tersebut meningkat cukup banyak bila dibandingkan dengan tahun 2013 dimana penetrasi internet baru mencapai 28,6%. 

Yang dilakukan kebanyakan orang saat terkoneksi ke internet adalah untuk menggunakan jejaring sosial. Tidak kurang dari 87% pengguna internet di Indonesia mengaku menggunakan socila media saat terhubung ke internet. Alasan kedua orang menggunakan internet adalah mencari informasi atau searching dan browsing yaitu sebanyak 68,7%. Yang menarik lainnya adalah ternyata 11% pengguna internet yang ada di Indonesia sudah melakukan jual beli online. Tak heran jika banyak pengamat yang mengatakan bahwa ecommerce sedang tumbuh dengan baik di Indonesia.

Apakah anda tahu rata-rata pengguna facebook di indonesia ?

Indonesia sebagai negara dengan pengguna facebook terbesar di dunia yaitu sebanyak 41,777,240 pengguna dari 241.452.952 total penduduk Indonesia yang menempati urutan ke empat sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia. Sebanyak 41% berasal dari usia 18-24 tahun, sebanyak 21% berusia 25-34 tahun. Pengguna pria lebih banyak dari pada wanita, yaitu sebanyak 60%. Pengguna internet di Indonesia mencapai 45 juta jiwa, 48% mengakses internet dari ponsel. Kecepatan akses internet di Indonesia mencapai 1,21 mbps, tetapi kenyataannya banyak yang tidak mencapai kecepatan tersebut. Internet di Indonesia masih menjadi hal yang banyak meninggalkan persoalan seperti akses lambat, biaya mahal, penipuan, monopoli ISP, konten-konten yang merugikan (pornografi) dan lain sebagainya. Langkah pemerintah di bidang Teknologi Informasi sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia agar rakyat Indonesia dapat menikmati internet dengan baik, harga yang murah, agar rakyat Indonesia dapat melek teknologi sehingga tidak tertinggal dengan bangsa lain.


Mengapa sosial media membuat orang jadi jarang berinteraksi ?

Munculnya media sosial merubah cara berinteraksi pada sesorang, contohnya saja mahasiswa, dengan seringnya memakai situs jejaring sosial membuat mahasiswa asyik dengan hidupnya sendiri, banyak sekali waktu yang tersita dengan sia – sia, padahal waktu itu bisa dipakai untuk berinteraksi dengan orang lain, dan hilangnya rasa kedekatan antara satu dengan yang lain.

Media sosial memang membuat kita jarang berbicara dengan orang sekitar karna kita lebih asik dengan dunia media sosial yang terkadang membuat kita lupa akan orang disekitar kita. Media sosial membuat kita menjadi jarang berinteraksi karna kita terlalu sibuk dengan dunia digital sekarang. Sosial media akan membuat penggunanya semakin acuh sama lingkungan sekitar karena mereka keasyikan dengan gadgetnya. Mereka nggak peduli apapun yang terjadi disekitarnya karena nggak tahu informasi tentang dunia nyata.

Malasnya berkomunikasi secara langsung diakibatkanya berkomunikasi lewat media situs jejaring sosial dianggap lebih mudah, praktis, dan lebih menghemat waktu karna tidak perlu bertemu cukup lewat jejaring sosial anda sudah dapat berbicara dengan dia  tetapi yang dilakukan banyak yang tidak sadar bahwa cara mereka berkomunikasi itu kurang efektif karena tidak bisa lihat langsung efek yang terjadi pada komunikasi.

Maraknya penggunaan internet untuk berkomunikasi secara personal, terutama melalui facebook, dalam kehidupan sehari-hari seringkali meperlihatkan “pemandangan aneh”. Misalnya, orang-orang yang secara fisik berada dalam jarak yang amat dekat (bahkan saling berdampingan di dalam suatu ruangan) saling berkomunikasi melalui facebook; lebih aneh lagi berkomunikasi seperti itu juga terjadi pada keluarga yang berada dalam satu bangunan rumah yang sama.Di satu sisi, komunikasi personal melalui media banyak manfaatnya tetapi di sisi lainnya mengakibatkan semakin menurunnya interaksi fisik antarindividu yang berakibat pula pada semakin berkurangnya tingkat keakraban dan kepekaan interpersonal pada para pelakunya. Komunikasi cenderung lebih banyak berlangsung dan dipersepsi secara verbal, sedangkan isyarat-isyarat nonverbal (yang selama ini dipercaya lebih merepresentasikan kejujuran komunikasi) cenderung semakin ditinggalkan.

Fenomena komunikasi melalui internet sekarang ini bagi sebagian orang tampaknya lebih menarik daripada berkomunikasi secara langsung tatap muka. Gejala inilah yang oleh Walther (1996) disebut sebagai komunikasi hiperpersonal, yakni komunikasi dengan perantara internet yang secara sosial lebih menarik daripada komunikasi langsung. Selanjutnya diungkapkan, ada tiga faktor yang cenderung menjadikan partner komunikasi via komputer lebih menarik: (1) E-mail dan jenis komunikasi lainhya memungkinkan prewentasi diri yang sangat selektif, dengan lebih sedikit penampilan atau perilaku yang tidak diinginkan dibandingkan komunikasi langsung. Dengan kata lain, Anda tidak perlu repot menata perilaku visual ketika berkomunikasi melalui internet. (2) Orang yang terlibat dalam komunikasi via komputer kadang kala mengalami atribusi yang berlebihan yang di dalamnya mereka membangun kesan stereotipe tentang partner mereka. Kesan-kesan ini sering mengabaikan informasi negatif, seperti kesalahan cetak, kesalahan ketik, dan sebagainya. (3) Ikatan intensifikasi bisa terjadi yang di dalamnya pesan-pesan positif dari seorang partner akan membangkitkan pesan-pesan positif dari rekan komunikasinya.

Sebagaimana halnya komunikasi yang sasarannya personal, komunikasi hiperpersonal pun disinyalir akan mampu menciptakan keakraban, bahkan keintiman di antara partisipannya. Hanya saja keintiman yang terjalin belum tentu bersesuaian antara yang terjadi dalam realitas dunia maya (hiperrealitas) dengan realitas yang sesungguhnya. Apabila dalam komunikasi interpersonal keintiman yang terjalin itu benar-benar nyata dan empirik, dalam komunikasi hiperpersonal hal itu lebih bersifat semu dan cenderung dilebih-lebihkan. Sebagai contoh, komunikasi yang terjadi di antara dua orang melalui chatting-room, misalnya melalui facebook atau yahoo massenger dapat memuat pesan-pesan yang dipertukarkan yang sangat intim dan sangat pribadi, tanpa harus saling mengenal lebih dahulu satu sama lainnya.

Realitas tersebut sekarang ini benar-benar sudah menggejala dan tampaknya akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Apabila memang demikian, maka komunikasi interpersonal yang semula lebih menekankan pada adanya interaksi tatap muka (face to face interaction), tampaknya akan lebih banyak berlangsung melalui media. Dalam keadaan demikian, maka apa yang kita namakan sebagai komunikasi medio tampaknya akan lebih eksis dibanding dengan komunikasi interpersonal konvensional. 

Penelitian dari Mintel, sebuah perusahaan penelitian pasar, menemukan lebih dari setengah orang dewasa yang menggunakan situs jejaring sosial seperti facebook, lebih menghabiskan waktu di internet dibandingkan berbicara dengan teman atau anggota keluarga lainnya.

Pernahkah ketika Anda asyik mengobrol dengan beberapa teman, masih bisa sigap memperhatikan nyala atau bunyi notifikasi dari ponsel? Perhatian bisa seketika teralihkan karena seseorang telah mengomentari status Facebook terbaru atau "menyambar" tweet Anda. Apabila perilaku-perilaku seperti itu melekat dalam diri, bisa jadi Anda berpotensi untuk mengidap social (media) anxiety disorder (SAD). Gangguan ini dapat dipahami sebagai ketakutan atau kecemasan dalam berkomunikasi di media sosial. Gejala tersebut disebut Social (Media) Anxiety Disorder. 

Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal ini dimana dalam hal ini merekalah yang sangat berpengaruh dalam keseharian anaknya. Orang tua harus lebih sering berinteraksi dengan anaknya karna dengan berbicara bisa mengetahui apa yang sedah dialami  anak tersebut apa yang sedang iya takuti, keadaan psikologis anaknya,  karna yang sering terjadi sekarang orang tua dan anak sangat jarang duduk bersama untuk berbicara atau sekedar bertegur sapa karna lebih sibuk terhadap dunia maya yang terlalu fiktif dan tidak jelas keberadaanya.

Seseorang merasa takut atas penghakiman buruk dari kerabat yang berada di jejaring sosial. Kecemasan terlihat ketika seseorang takut dicap sebagai orang yang sombong ketika memberikan respons yang lambat. Bahkan.seseorang bisa merasa tertekan jika kerabat dekatnya meng-unfollow atau mem-block akunnya tiba-tiba. SAD juga bisa berpeluang untuk masuk dalam kategori penyakit klinis. 

 Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam situs jejaring sosial khususnya Facebook, ternyata memiliki dampak secara psikologis baik positif maupun negatif. Dampak psikologis positif yang dapat diperoleh antara lain adanya keterbukaan diri yang tidak terbatas yang berguna untuk memenuhi kebutuhan afiliasi seseorang,memperoleh validasi sosial, meningkatkan kontrol sosial, meraih pengklarifikasian diri, dan melatih pengekspresian diri. Selain itu, proses komunikasi juga menjadi lebih mudah dancepat untuk dilakukan, karena sudah tidak terbatas jarak, ruang, dan waktu.

Pada dasarnya, bila digunakan dengan baik, media sosial tentu berdampak positif.karna media sosial itu mendekatkan yang jauh jadi, penulis berpesan bahwa kita sebagai generasi muda harus pintar dalam memanfaatkan media sosial jangan sampai generasi muda kita dihancurkan oleh generasi kita sendiri, jangan mau untuk dijadikan generasi idiot yang hanya memanfaatkan media sosial hanya untuk menjauhkan yang dekat tapi lebih dimanfaatkan lagi kegunaan dari sosial media.

Bagaimana solusi untuk mengurangi dampak negatif dari sosial media ? 

Kesadaran individu sangatlah penting dalam hal ini. Individu hendaknya dapat menyadari bahwa sesungguhnya teknologi dibuat untuk kesejahteraan umat manusia, sehingga kehidupan dapat menjadi lebih baik dan lebih mudah. Kita wajib menghormati orang lain, termasuk di internet. Peran orang tua sangatlah penting dalam memberikan pengarahan serta pengawasan kepada anak-anaknya, khususnya kepada anak remaja pengguna internet. Pemanfaatan internet tentu harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diingikan. Selanjutnya peran pemerintah juga besar dibutuhkannya dalam rangka pemanfaatan internet dengan sebaik-baiknya. Pemerintah jangan hanya memperkenalkan internet kepada masyarakat luas, tetapi perlu mensosialisasikan dampak positif dan negatif penggunaan internet. Peran masyakarat juga penting dalam membantu memanfaatkan internet secara positif dan bertanggung jawab. Hendaknya kita saling mengingatkan satu sama lain agar tercipta interaksi antarmanusia yang positif, aman, dan nyaman.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial
http://blog.idkeyword.com/profil-pengguna-internet-di-indonesia-tahun-2015/
http://loop.co.id/articles/mau-jalan-jalan-ke-singapore-gratis-ikutan-loop-squad-hunt-2016-aja
http://deziechelsealovers.blogspot.co.id/2013/05/jejaring-sosial-menggantikan-komunikasi.html
http://delianur.blogspot.co.id/2011/06/trend-komunikasi-dunia-maya-dan.html
http://naluritasyahfitri.blogspot.co.id/2015/01/ilmu-budaya-dasar-pengaruh-mediasosial.html