Dalam era globalisasi ini teknologi semakin maju, tidak dapat
dipungkiri hadirnya internet semakin dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari,
baik dalam kegiatan sosialisasi, pendidikan, bisnis, dan sebagainya. Kesempatan
ini juga dimanfaatkan oleh vendorsmartphone serta tablet murah yang
menjamur dan menjadi trend . Hampir semua orang di Indonesia memiliki smartphone ,
dengan semakin majunya internet dan hadirnya smartphone maka media
sosial pun ikut berkembang pesat.
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para
penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi
meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media
sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dengan
menerapkan satu set teori-teori dalam bidang media penelitian (kehadiran
sosial, media kekayaan) dan proses sosial (self-presentasi, self-disclosure).
Media sosial merupakan situs dimana seseorang dapat membuat web
page pribadi dan terhubung dengan setiap orang yang tergabung dalam media
sosial yang sama untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jika media
tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast , maka media
sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik
untuk berpartisipasi dengan memberi feedback secara terbuka, memberi
komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Di Indonesia sendiri Hal menarik pertama yang kita temukan
adalah sebuah fakta bahwa pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angkat
88,1 Juta. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang
ada 252,4 Juta, maka dapat dikatakan bahwa penetrasi pengguna internet di
negara ini mencapai 34,9%. Angka tersebut meningkat cukup banyak bila
dibandingkan dengan tahun 2013 dimana penetrasi internet baru mencapai 28,6%.
Yang dilakukan kebanyakan orang saat terkoneksi
ke internet adalah untuk menggunakan jejaring sosial. Tidak
kurang dari 87% pengguna internet di Indonesia mengaku menggunakan socila
media saat terhubung ke internet. Alasan kedua orang menggunakan internet
adalah mencari informasi atau searching dan browsing yaitu sebanyak 68,7%. Yang
menarik lainnya adalah ternyata 11% pengguna internet yang ada di Indonesia
sudah melakukan jual beli online. Tak heran jika banyak pengamat yang
mengatakan bahwa ecommerce sedang tumbuh dengan baik di Indonesia.
Apakah anda tahu rata-rata pengguna facebook di indonesia ?
Indonesia sebagai negara dengan pengguna facebook terbesar
di dunia yaitu sebanyak 41,777,240 pengguna dari 241.452.952 total penduduk
Indonesia yang menempati urutan ke empat sebagai negara berpenduduk terbanyak
di dunia. Sebanyak 41% berasal dari usia 18-24 tahun, sebanyak 21% berusia
25-34 tahun. Pengguna pria lebih banyak dari pada wanita, yaitu sebanyak 60%.
Pengguna internet di Indonesia mencapai 45 juta jiwa, 48% mengakses internet
dari ponsel. Kecepatan akses internet di Indonesia mencapai 1,21 mbps, tetapi
kenyataannya banyak yang tidak mencapai kecepatan tersebut. Internet di
Indonesia masih menjadi hal yang banyak meninggalkan persoalan seperti akses
lambat, biaya mahal, penipuan, monopoli ISP, konten-konten yang merugikan
(pornografi) dan lain sebagainya. Langkah pemerintah di bidang Teknologi
Informasi sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia agar rakyat Indonesia
dapat menikmati internet dengan baik, harga yang murah, agar rakyat Indonesia
dapat melek teknologi sehingga tidak tertinggal dengan bangsa lain.
Mengapa sosial media membuat orang jadi jarang berinteraksi
?
Munculnya media sosial merubah cara berinteraksi pada
sesorang, contohnya saja mahasiswa, dengan seringnya memakai situs jejaring
sosial membuat mahasiswa asyik dengan hidupnya sendiri, banyak sekali waktu
yang tersita dengan sia – sia, padahal waktu itu bisa dipakai untuk
berinteraksi dengan orang lain, dan hilangnya rasa kedekatan antara satu dengan
yang lain.
Media sosial memang membuat kita jarang berbicara dengan
orang sekitar karna kita lebih asik dengan dunia media sosial yang terkadang
membuat kita lupa akan orang disekitar kita. Media sosial membuat kita menjadi
jarang berinteraksi karna kita terlalu sibuk dengan dunia digital sekarang. Sosial
media akan membuat penggunanya semakin acuh sama lingkungan sekitar karena
mereka keasyikan dengan gadgetnya. Mereka nggak peduli apapun yang terjadi
disekitarnya karena nggak tahu informasi tentang dunia nyata.
Malasnya berkomunikasi secara langsung diakibatkanya
berkomunikasi lewat media situs jejaring sosial dianggap lebih mudah, praktis,
dan lebih menghemat waktu karna tidak perlu bertemu cukup lewat jejaring sosial
anda sudah dapat berbicara dengan dia tetapi yang dilakukan banyak yang tidak sadar
bahwa cara mereka berkomunikasi itu kurang efektif karena tidak bisa lihat
langsung efek yang terjadi pada komunikasi.
Maraknya penggunaan internet untuk berkomunikasi secara
personal, terutama melalui facebook, dalam kehidupan sehari-hari seringkali
meperlihatkan “pemandangan aneh”. Misalnya, orang-orang yang secara fisik
berada dalam jarak yang amat dekat (bahkan saling berdampingan di dalam suatu
ruangan) saling berkomunikasi melalui facebook; lebih aneh lagi berkomunikasi
seperti itu juga terjadi pada keluarga yang berada dalam satu bangunan rumah
yang sama.Di satu sisi, komunikasi personal melalui media banyak manfaatnya
tetapi di sisi lainnya mengakibatkan semakin menurunnya interaksi fisik
antarindividu yang berakibat pula pada semakin berkurangnya tingkat keakraban
dan kepekaan interpersonal pada para pelakunya. Komunikasi cenderung lebih
banyak berlangsung dan dipersepsi secara verbal, sedangkan isyarat-isyarat
nonverbal (yang selama ini dipercaya lebih merepresentasikan kejujuran
komunikasi) cenderung semakin ditinggalkan.
Fenomena komunikasi melalui internet sekarang ini bagi
sebagian orang tampaknya lebih menarik daripada berkomunikasi secara langsung
tatap muka. Gejala inilah yang oleh Walther (1996) disebut sebagai komunikasi
hiperpersonal, yakni komunikasi dengan perantara internet yang secara sosial
lebih menarik daripada komunikasi langsung. Selanjutnya diungkapkan, ada tiga
faktor yang cenderung menjadikan partner komunikasi via komputer lebih menarik:
(1) E-mail dan jenis komunikasi lainhya memungkinkan prewentasi diri yang
sangat selektif, dengan lebih sedikit penampilan atau perilaku yang tidak
diinginkan dibandingkan komunikasi langsung. Dengan kata lain, Anda tidak perlu
repot menata perilaku visual ketika berkomunikasi melalui internet. (2) Orang
yang terlibat dalam komunikasi via komputer kadang kala mengalami atribusi yang
berlebihan yang di dalamnya mereka membangun kesan stereotipe tentang partner
mereka. Kesan-kesan ini sering mengabaikan informasi negatif, seperti kesalahan
cetak, kesalahan ketik, dan sebagainya. (3) Ikatan intensifikasi bisa terjadi
yang di dalamnya pesan-pesan positif dari seorang partner akan membangkitkan
pesan-pesan positif dari rekan komunikasinya.
Sebagaimana halnya komunikasi yang sasarannya personal,
komunikasi hiperpersonal pun disinyalir akan mampu menciptakan keakraban,
bahkan keintiman di antara partisipannya. Hanya saja keintiman yang terjalin
belum tentu bersesuaian antara yang terjadi dalam realitas dunia maya
(hiperrealitas) dengan realitas yang sesungguhnya. Apabila dalam komunikasi
interpersonal keintiman yang terjalin itu benar-benar nyata dan empirik, dalam
komunikasi hiperpersonal hal itu lebih bersifat semu dan cenderung
dilebih-lebihkan. Sebagai contoh, komunikasi yang terjadi di antara dua orang
melalui chatting-room, misalnya melalui facebook atau yahoo massenger dapat
memuat pesan-pesan yang dipertukarkan yang sangat intim dan sangat pribadi,
tanpa harus saling mengenal lebih dahulu satu sama lainnya.
Realitas tersebut sekarang ini benar-benar sudah menggejala dan tampaknya akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Apabila memang demikian, maka komunikasi interpersonal yang semula lebih menekankan pada adanya interaksi tatap muka (face to face interaction), tampaknya akan lebih banyak berlangsung melalui media. Dalam keadaan demikian, maka apa yang kita namakan sebagai komunikasi medio tampaknya akan lebih eksis dibanding dengan komunikasi interpersonal konvensional.
Penelitian dari Mintel, sebuah perusahaan penelitian pasar,
menemukan lebih dari setengah orang dewasa yang menggunakan situs jejaring
sosial seperti facebook, lebih menghabiskan waktu di internet dibandingkan
berbicara dengan teman atau anggota keluarga lainnya.
Pernahkah ketika Anda asyik mengobrol dengan beberapa teman,
masih bisa sigap memperhatikan nyala atau bunyi notifikasi dari ponsel?
Perhatian bisa seketika teralihkan karena seseorang telah mengomentari status
Facebook terbaru atau "menyambar" tweet Anda. Apabila
perilaku-perilaku seperti itu melekat dalam diri, bisa jadi Anda berpotensi
untuk mengidap social (media) anxiety disorder (SAD). Gangguan ini
dapat dipahami sebagai ketakutan atau kecemasan dalam berkomunikasi di media
sosial. Gejala tersebut disebut Social (Media) Anxiety Disorder.
Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal ini dimana dalam
hal ini merekalah yang sangat berpengaruh dalam keseharian anaknya. Orang tua
harus lebih sering berinteraksi dengan anaknya karna dengan berbicara bisa mengetahui
apa yang sedah dialami anak tersebut apa
yang sedang iya takuti, keadaan psikologis anaknya, karna yang sering terjadi sekarang orang tua
dan anak sangat jarang duduk bersama untuk berbicara atau sekedar bertegur sapa
karna lebih sibuk terhadap dunia maya yang terlalu fiktif dan tidak jelas
keberadaanya.
Seseorang merasa takut atas penghakiman buruk dari kerabat
yang berada di jejaring sosial. Kecemasan terlihat ketika seseorang takut dicap
sebagai orang yang sombong ketika memberikan respons yang lambat.
Bahkan.seseorang bisa merasa tertekan jika kerabat dekatnya meng-unfollow atau
mem-block akunnya tiba-tiba. SAD juga bisa berpeluang untuk masuk dalam
kategori penyakit klinis.
Pada dasarnya, bila digunakan
dengan baik, media sosial tentu berdampak positif.karna media sosial itu mendekatkan
yang jauh jadi, penulis berpesan bahwa kita sebagai generasi muda harus pintar
dalam memanfaatkan media sosial jangan sampai generasi muda kita dihancurkan
oleh generasi kita sendiri, jangan mau untuk dijadikan generasi idiot yang
hanya memanfaatkan media sosial hanya untuk menjauhkan yang dekat tapi lebih
dimanfaatkan lagi kegunaan dari sosial media.
Bagaimana solusi untuk mengurangi dampak negatif dari sosial media ?
Bagaimana solusi untuk mengurangi dampak negatif dari sosial media ?
Kesadaran individu sangatlah penting dalam hal ini. Individu
hendaknya dapat menyadari bahwa sesungguhnya teknologi dibuat untuk
kesejahteraan umat manusia, sehingga kehidupan dapat menjadi lebih baik dan
lebih mudah. Kita wajib menghormati orang lain, termasuk di internet. Peran
orang tua sangatlah penting dalam memberikan pengarahan serta pengawasan kepada
anak-anaknya, khususnya kepada anak remaja pengguna internet. Pemanfaatan
internet tentu harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak diingikan. Selanjutnya peran pemerintah juga besar
dibutuhkannya dalam rangka pemanfaatan internet dengan sebaik-baiknya.
Pemerintah jangan hanya memperkenalkan internet kepada masyarakat luas, tetapi
perlu mensosialisasikan dampak positif dan negatif penggunaan internet. Peran
masyakarat juga penting dalam membantu memanfaatkan internet secara positif dan
bertanggung jawab. Hendaknya kita saling mengingatkan satu sama lain agar
tercipta interaksi antarmanusia yang positif, aman, dan nyaman.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial
http://blog.idkeyword.com/profil-pengguna-internet-di-indonesia-tahun-2015/
http://loop.co.id/articles/mau-jalan-jalan-ke-singapore-gratis-ikutan-loop-squad-hunt-2016-aja
http://deziechelsealovers.blogspot.co.id/2013/05/jejaring-sosial-menggantikan-komunikasi.html
http://delianur.blogspot.co.id/2011/06/trend-komunikasi-dunia-maya-dan.html
http://naluritasyahfitri.blogspot.co.id/2015/01/ilmu-budaya-dasar-pengaruh-mediasosial.html