Proyek yang kami lakukan adalah tentang WEB CUCI SEPATU.
Dimana kekurangan dari web tersebut adalah tidak terhubungnya lokasi cuci sepatu
dengan Google API. Maka, kami menambahkan hal tersebut kedalam proyek ini yaiu
Google API agar user dapat dengan mudah menemukan lokasi cuci sepatu.
Jumat, 23 Juni 2017
ANALISIS PROYEK 1
Proyek yang kami lakukan adalah tentang WEB CUCI SEPATU.
Dimana kekurangan dari web tersebut adalah
·
tidak terhubungnya lokasi cuci sepatu dengan
Google API. Maka, kami menambahkan hal tersebut kedalam proyek ini yaiu Google
API agar user dapat dengan mudah menemukan lokasi cuci sepatu.
POST TEST ESTIMASI
COCOMO merupakan singkatan dari Constructive Cost Model yaitu
algortima model estimasi biaya perangkat lunak yang dikembangkan dan
diterbitkan oleh Barry Boehm. Cocomo merupakan sebuah model – model untuk
memperkirakan usaha, biaya dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak.
COCOMO pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 Barry Boehm W.
‘s Book rekayasa ekonomi Perangkat Lunak sebagai model untuk memperkirakan
usaha, biaya, dan jadwal untuk proyek-proyek perangkat lunak. Ini menarik pada
studi dari 63 proyek di TRW Aerospace mana Barry Boehm adalah Direktur Riset
dan Teknologi Perangkat Lunak pada tahun 1981. Penelitian ini memeriksa
proyek-proyek ukuran mulai dari 2.000 sampai 100.000 baris kode , dan bahasa
pemrograman mulai dari perakitan untuk PL / I . Proyek-proyek ini didasarkan
pada model waterfall pengembangan perangkat lunak yang merupakan pengembangan
software proses lazim pada tahun 1981.
Macam-macam COCOMO :
1. Basic COCOMO menghitung usaha pengembangan perangkat
lunak (dan biaya) sebagai fungsi dari ukuran program yang. Ukuran Program
dinyatakan dalam perkiraan ribuan baris kode sumber ( SLOC )
COCOMO berlaku untuk tiga kelas proyek perangkat lunak:
§ Proyek Organik – “kecil” tim dengan “baik”
pengalaman bekerja dengan “kurang kaku” persyaratan
§ Proyek semi-terpisah – “menengah” tim dengan
pengalaman bekerja dicampur dengan campuran kaku dan kurang dari kebutuhan kaku
§ Proyek tertanam – dikembangkan dalam satu set
“ketat” kendala. Hal ini juga kombinasi proyek organik dan semi-terpisah.
( Hardware, software, operasional ).
2. Medium COCOMO menghitung usaha pengembangan perangkat lunak sebagai
fungsi dari ukuran program yang dan satu set “driver biaya” yang mencakup
penilaian subjektif dari produk, perangkat keras, personil dan atribut
proyek. Ekstensi ini mempertimbangkan satu set empat “driver biaya”,
masing-masing dengan sejumlah atribut anak.
3. Detail COCOMO menggabungkan semua karakteristik versi intermediate
dengan penilaian dampak cost driver di setiap langkah (analisis, desain, dll)
dari proses rekayasa perangkat lunak.
Model rinci menggunakan pengganda usaha yang berbeda untuk
setiap cost driver atribut. Ini Tahap pengganda
upaya Sensitif masing-masing untuk menentukan jumlah usaha
yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap tahap.
Dalam rinci COCOMO, upaya dihitung sebagai fungsi dari ukuran
program yang dan satu set driver biaya yang diberikan sesuai dengan setiap fase
siklus hidup perangkat lunak.
Sebuah jadwal proyek rinci tidak pernah statis.
Kelima fase rinci COCOMO adalah :
§ rencana dan kebutuhan.
§ desain sistem.
§ desain rinci.
§ kode modul dan uji.
§ integrasi dan pengujian.
ESTIMASI BERDASARKAN SEJARAH
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Estimasi
adalah perkiraan, penilaian atau pendapat. Estimasi adalah suatu metode dimana
kita dapat memperkirakan nilai dari suatu populasi dengan menggunakan nilai
dari sampel. Estimator adalah nilai pendugaan/suatu data statistik, sebagai
sampel yang digunakan untuk mengisi suatu parameter.
Jalan keluar dari ketergantungan pada orang dan
untuk membuat estimasi lebih khusus, yaitu anda harus mengerti tentang
sejarahnya. Tulislah berapa lama masing-masing tugas dapat diselesaikan dan
siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut.
Anda dapat membandingkan tuagas yang akan
diestimasik dengan tugas yang sama yang dikerjakan lebih awal, setelah itu mulailah
dengan melakukan estimasi.
Hal ini dimaksudkan agar anda menjabarkan suatu
proyek ke dalam beberapa tugas yang biasanya diulang dan mudah untuk
dibandingkan.
Untuk estimasi berdasarkan sejarah,
pertama harus mempelajari serta memahami sejarah berapa lama masing-masing
tugas dapat diselesaikan dan siapa yang bertanggung jawab atas tugas
tersebut. Kemudian dapat dibandingkan tugas yang akan diestimasikan
dengan tugas yang sama yang dikerjakan jauh lebih dulu, setelah itu mulailah
dengan melakukan estimasi. hal ini dimaksudkan
agar sebelumnya menjabarkan suatu proyek ke dalam beberapa tugas yang
biasanya diulang dan mudah untuk dibandingkan.
POST TEST BAB 9
Perbedaan White Box & Black Box
White
box (Struktural)
White box adalah pengujian yang didasarkan pada
pengecekan terhadap detail perancangan, menggunakan struktur kontrol dari
desain program secara procedural untuk membagi pengujian ke dalam beberapa
kasus pengujian. Secara sekilas dapat diambil kesimpulan white box testing
merupakan petunjuk untuk mendapatkan program yang benar secara 100%.
1. Dilakukan
oleh penguji yang mengetahui tentang QA.
2. Melakukan
testing pada software/program aplikasi menyangkut security dan performance
program tersebut (meliputi tes code, desain implementasi, security, data flow,
software failure).
3. Dilakukan
seiring dengan tahapan pengembangan software atau pada tahap testing.
Metode
BlackBox (Fungsional)
Black box adalah pengujian yang dilakukan hanya
mengamati hasil eksekusi melalui data uji dan memeriksa fungsional dari
perangkat lunak. Jadi dianalogikan seperti kita melihat suatu koatak hitam, kit
hanya bisa melihat penampilan luarnya saja, tanpa tau ada apa dibalik bungkus
hitam nya. Sama seperti pengujian black box, mengevaluasi hanya dari tampilan
luarnya(interface nya) , fungsionalitasnya.tanpa mengetahui apa sesungguhnya
yang terjadi dalam proses detilnya (hanya mengetahui input dan output).
1. Dilakukan
oleh penguji Independent.
2. Melakukan
pengujian berdasarkan apa yang dilihat, hanya fokus terhadap fungsionalitas dan
output. Pengujian lebih ditujukan pada desain software sesuai standar dan
reaksi apabila terdapat celah-celah bug/vulnerabilitas pada program aplikasi
tersebut setelah dilakukan white box testing.
3. Dilakukan
setelah white box testing.
PRETEST BAB 9
LANGKAH-LANGKAH
PEMROGRAMAN
Langkah
1. Rencana Penggabungan (Plan The Integration)
Menurut akal sehat anda tidak akan dapat
membuat semua program sekaligus dan kemudian membuang semuanya – ini memerlukan
rangkaian langkah demi langkah. Rencanakan urutan dimana anda akan
menggabungkannya. Bab 9 ini merinci beberapa metode untuk menggabungkan
bagian-bagian tersebut, tetapi anda harus merencanakan urutan penggabungan ini
sekarang, karena anda harus menulis program supaya dapat digabungkan. Ini
disebut Rencana Tes Sistem (System Test Plan).
Langkah
2. Mendisain Modul (Design The Module)
Programmer menerima beberapa
tingkatan disain dari fase disain. Tugasnya adalah memecah modul secara rinci
ke tingkat yang lebih rendah sampi mencapai keadaan programmer siap untuk
melakukan pemrograman. Ini disebut disain modul. Disain modul adalah pendekatan
top-down dimulai dengan kotak paling atas, AMST000 dan dipecah ke dalam
sub-komponen yang tepat, Dan kemudian modul tersebut dipecah lagi sampai
tercapai sebuah tingkatan dimana mulai dapat diprogram.
Pertanyaan yang bisa diajukan adalah
: “Pada tingkatan mana disain sistem berhenti dan disain modul dimulai ?”.
Jawabannya adalah “Disain sistem dipecah sampai pada tingkat dimana programmer
dapat memulainya”. Tingkatan ini dapat bermacam-macam dari proyek ke proyek dan
bahkan dari satu bagian sistem ke bagian lainnya – tergantung pada programmer
yang menerima bagian tersebut.
Adapun pertimbangan lainnya adalah :
• Jika pemecahan modul yang dihasilkan adalah sangat penting yang
memerlukan prioritas seperti adanya respon, user-friendly atau konsistensi,
perancang bisa melanjutkan ke tingkat yang lebih rendah.
•
Tingkat pemecahan dari disain dinyatakan dengan kontrak.
•
Jika programmer tidak mengetahui pada waktu disain, pengetahuan programmer
tingkat menengah dapat diasumsikan, dan disain dapat diambil alih oleh
programmer tingkat menengah yang dapat mengatasinya.
Tetapi perlu diingat bahwa
programmer tidak senang menerima disain yang terlalu rinci, yang programnya
adalah menerjemahkan bahasa Inggris yang sederhana, seperti pernyataan-pernyataan
secara harafiah ke dalam bahasa pemrograman.
Langkah 3. Telusuri Disain
Modul (WalkThrough The Module Design)
Seperti pada tingkat atas dan
menengah dari disain, pertukaran harus dibuat sebaiknya pada tingkat yang
paling rendah. Telusuri disain dari masing-masing modul sebelum melakukan
pengkodean. Penelusuran ini sangat kecil : hanya programmer yang tepat,
supervisor dan mungkin programmer lainnya yang perlu diperhatikan. Kegunaan
dari penelusuran disain modul adalah untuk memastikan bahwa disain yang terbaik
yang telah dilakukan, semua fungsi telah dialamatkan dan semua bagian telah
ditangani.
Langkah
4. Rencana Bagaimana Menguji Modul (Plan How To Test The Module)
Programmer harus menyiapkan rencana
pengujian modul dan data pengujian sebelum dikodekan. Rencana pengujian
dilakukan setelah kode ditetapkan. Mereka cenderung hanya menguji bagian kode
yang paling ‘sulit’. Pimpinan proyek bisa saja melakukan tuntutan pada
penelusuran rencana pengujian sepanjang disain modul sedang dilaksanakan.
Kerjakan penelusuran ini bersama-sama.
Langkah
5. Kode Setiap Modul (Code Each Module)
Standar pengkodean akan ditetapkan
pada saat disain sistem (lihat bagian 7.12). Kita tidak membahas bagaimana
membuat program – lihat Referensi 12 (tulisan ini membahas disain sama baiknya
dengan pemrograman) dan Referensi 13 untuk lebih jelasnya.
Berikut
ini adalah ringkasan dari sebuah program terstruktur, yaitu :
•
Jika berukuran kecil. Aturan dasarnya adalah kira-kira 100 baris kode yang dapat
dieksekusi dan listingnya tidak lebih dari 2 halaman.
•
Satu entry, satu exit.
•
Referensi secara keseluruhan sedikit.
•
Konstruksi terstruktur yang digunakan : berurutan, IF/THEN/ELSE, CASE, WHILE,
UNTIL, CALL (bukan GO TO).
Langkah
6. Menguji Modul (Test The Module)
Programmer menguji modul dengan
menetapkan lingkungan yang tepat, menyediakan beberapa input, membiarkan modul
langsung memproses secara logik dan mendapatkan hasilnya. Beberapa input
mungkin tidak sebenarnya, terutama jika modul tersebut tidak menyediakan input
yang sebenarnya.
Modul
seharusnya diuji dalam dua tahap, yaitu :
• Tahap Pertama disebut pengujian “White
Box”. Programmer harus mengetahui isi di dalam modul dan menyediakan data
pengujian, sehingga masing-masing path logical dalam program dapat dieksekusi.
• Tahap Kedua atau pengujian “Black Box”
dapat dilakukan. Dalam pengujian ini, programmer mengabaikan bagian dalam dari
modul – data disediakan secara berurut dan dianggap seperti pemakaian
sebenarnya.
Langkah 7. Menguji Level Terendah dari
Integrasi (Test The Lowest Levels Of Integration)
Jika modul utama
memanggil sub-modul, programmer harus menggabungkan dan menguji semua modul
secara bersama-sama. Bahkan jika programmer tidak bertanggung jawab untuk menulis
sub-modul, programmer harus menguji perintah CALL dan RETURN dari seluruh
modul.
Metode terbaik untuk melakukan hal ini adalah membuat sebuah
“program stub” (potongan program) sebagai pengganti sub-modul. Potongan program
ini dapat terdiri dari empat baris program yang menunjukkan bahwa kontrol sudah
diterima dengan baik, tampilkan parameter penerima, jika perlu lakukan
pengontrolan kembali dengan beberapa parameter yang tidak sebenarnya.
Langkah 8. Menyimpan Semua Hasil
Pengujian; Penggabungan Modul-modul Yang Telah Diuji (Save The Results Of All
Tests; Submit Finished Modules To Integration)
Hasil pengujian
digunakan untuk menyusun statistik yang menunjukkan penyebab, cara perbaikan
serta biaya-biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan
program. Pimpinan proyek biasanya menguasai/mengepalai penggabungan ini pada
sistem berukuran kecil sampai sedang.
Software seperti
CMS (Code Management System) sangat berguna untuk menajemen konfigurasi –
menjamin program tetap berjalan sesuai versinya dan mengubah ke source code.
Langkah 9. Memulai Dokumentasi User(Get
Started On The User Documentation)
Apakah programmer
bertanggung jawab pada dokumentasi user atau tidak, tahapan ini adalah waktu
terbaik untuk menjawabnya. Dokumen-dokumen berikut mungkin harus ditulis :
·
Tuntunan
Pemakai (User’s Guide)
·
Tuntunan Pemeliharaan (Maintanance
Guide)
·
Tuntunan
Operator / Tuntunan Manajer Sistem (Operator’s Guide / System Manager’s Guide)
Kamis, 02 Februari 2017
Tools Untuk Melakukan Audit
Beberapa tool yang
dipergunakan dalam IT Audit adalah:
1. ACL (Audit Command Language): software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) yang sudah sangat populer untuk melakukan analisa terhadap data dari berbagai macam sumber.
2. Picalo : software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) seperti halnya ACL yang dapat dipergunakan untuk menganalisa data dari berbagai macam sumber.
3. Powertech Compliance Assessment Powertech: automated audit tool yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark user access to data, public authority to libraries, user security, system security, system auditing dan administrator rights (special authority) sebuah serverAS/400.
sumber : http://naisdoang.blogspot.co.id/2012/06/tools-it-audit.html
1. ACL (Audit Command Language): software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) yang sudah sangat populer untuk melakukan analisa terhadap data dari berbagai macam sumber.
2. Picalo : software CAAT (Computer Assisted Audit Techniques) seperti halnya ACL yang dapat dipergunakan untuk menganalisa data dari berbagai macam sumber.
3. Powertech Compliance Assessment Powertech: automated audit tool yang dapat dipergunakan untuk mengaudit dan mem-benchmark user access to data, public authority to libraries, user security, system security, system auditing dan administrator rights (special authority) sebuah serverAS/400.
sumber : http://naisdoang.blogspot.co.id/2012/06/tools-it-audit.html
Cobit
COBIT
adalah merupakan kerangka panduan tata kelola TI dan atau bisa juga disebut
sebagai toolset pendukung yang bisa digunakan untuk menjembatani gap antara
kebutuhan dan bagaimana teknis pelaksanaan pemenuhan kebutuhan tersebut dalam
suatu organisasi
Control Objective for Information and related Technology, disingkat COBIT Dikeluarkan dan disusun oleh IT
Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA (Information Systems
Audit and Control Association) pada tahun 1996. hingga saat artikel ini dimuat
setidaknya sudah ada 5 versi COBIT yang sudah diterbitkan, versi pertama
diterbitkan pada tahun 1996, versi kedua tahun 1998, versi 3.0 di tahun 2000,
Cobit 4.0 pada tahun 2005, CObit 4.1 tahun 2007 dan yang terakhir ini adalah
Cobit versi 5 yang di rilis baru-baru saja.
Tujuan utama yang diharapkan dari adanya COBIT yaitu agar perusahaan mampu meningkatkan nilai tambah dalam bidang IT dan dapat mengurangi risiko-risiko inheren yang ada didalamnya , Cobit memberikan panduan kerangka
kerja yang bisa mengendalikan semua kegiatan organisasi secara detail dan jelas
sehingga dapat membantu memudahkan pengambilan keputusan di level top dalam
organisasi.
Bottom-Up Test
Integration Testing (kel.4)
1. Top-down test
2. Bottom-up test
3. Regression test
Kapan dan berikan contoh melakukan Bottom-up Test ?
Jawab :
Strategi
Bottom-up Test ini digunakan jika, modul level bawah di buat (coding), di test,
dan diintegrasikan sebelum modul level atas di buat. Keuntungannya adalah modul
level rendah yang merupakan operasi yang paling sulit di implementasikan dan
diuji terlebih dahulu. Kerugiannya adalah pendekatan ini sangat sulit untuk di
teliti seluruh operasinya, sebelum programnya selesai dibuat.
Contoh Menggunakan bottom-up test
Modul pada level terbawah diintegrasi pertama, kemudian dengan menggerakkan keatas melalui struktur kontrol.
Proses integration:
1. Modul low-level dikombinasikan ke cluster yang menunjukkan sebuah sub-function software spesifik.
2. sebuah driver ditulis untuk meng-coordinate input dan output test case.
3. Test cluster diuji.
4. Driver dipindah dan cluster digabungkan bergerak ke atas dalam struktur program.
Proses integration:
1. Modul low-level dikombinasikan ke cluster yang menunjukkan sebuah sub-function software spesifik.
2. sebuah driver ditulis untuk meng-coordinate input dan output test case.
3. Test cluster diuji.
4. Driver dipindah dan cluster digabungkan bergerak ke atas dalam struktur program.
Top-Down Test
Integration Testing
1. Top-down test
2. Bottom-up test
3. Regression test
Kapan dan contoh integration testing dilakukan top-down test ?
Strategi top-down test ini digunakan jika, modul level atas (high-level modules) dibuat (coding), di test, dan diintegrasikan sebelum modul level bawah (low-level modules). Keuntungannya adalah kesalahan pada modul level atas dapat teridentifikasi lebih dini, kerugiannya adalah pada saat uji coba program akan menemui kesulitan ketika modul level bawah menemukan kesalahan fungsi input-output yang sangat sulit.
Contoh intergration testing
Modul-modul diintegrasi dengan memindahkan downward melalui struktur kontrol. Modul subordinate ke modul kontrol utama digabung ke sistem dalam cara depth-first atau breadth-first.
Proses integrasi:
1. modul kontrol utama digunakan sebagai sebuah test driver, dan stubs disubstitusi untuk semua modul secara langsung ke modul kontrol utama.
2. stub subordinate digantikan sekali satu waktu dengan modul actual.
3. test terkonduksi sebagai tiap modul diintegrasi.
4. pada pelengkapan tiap kumpulan test, stub lainnya diganti dengan modul real.
5. pengujian regresi dapat dikonduksi.
1. Top-down test
2. Bottom-up test
3. Regression test
Kapan dan contoh integration testing dilakukan top-down test ?
Jawab :
Strategi top-down test ini digunakan jika, modul level atas (high-level modules) dibuat (coding), di test, dan diintegrasikan sebelum modul level bawah (low-level modules). Keuntungannya adalah kesalahan pada modul level atas dapat teridentifikasi lebih dini, kerugiannya adalah pada saat uji coba program akan menemui kesulitan ketika modul level bawah menemukan kesalahan fungsi input-output yang sangat sulit.
Modul-modul diintegrasi dengan memindahkan downward melalui struktur kontrol. Modul subordinate ke modul kontrol utama digabung ke sistem dalam cara depth-first atau breadth-first.
Proses integrasi:
1. modul kontrol utama digunakan sebagai sebuah test driver, dan stubs disubstitusi untuk semua modul secara langsung ke modul kontrol utama.
2. stub subordinate digantikan sekali satu waktu dengan modul actual.
3. test terkonduksi sebagai tiap modul diintegrasi.
4. pada pelengkapan tiap kumpulan test, stub lainnya diganti dengan modul real.
5. pengujian regresi dapat dikonduksi.
Senin, 16 Januari 2017
Komputer Forensik: Melacak Kejahatan Digital
TUGAS
PENGANTAR TELEMATIKA
Disusun Oleh:
ACHMAD FARHAN (10113083)
HENDRO SUTRISNO (1A113550)
IBRAHIM (14113185)
MALIK NUR RAHMAT (15113251)
TAUFIK MAULANA (18113820)
KELAS: 4KA11
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNLOGI
INFORMASI
JURUSAN SISTEM INFORMASI
Depok
2017
BAB 1
KOMPUTER FORENSIK
Forensik bertujuan untuk
mendapatkan fakta dan bukti tersembunyi dengan cara menganalisis darah,
struktur gigi, riwayat kesehatan, sidik jari, dan lainnya.
Ilmu forensi terus berkembang
seiring perkembangan dunia teknologi, dan komputer forensik adalah bidang ilmu
baru yang mengawinkan ilmu hukum dan komputer. Bukan hanya subjek yang berubah
dan meluas, prosesnya pun banyak mengalami perubahan. Saat ini metode, peralatan,
dan ilmu pengetahuan yang melengkapi komputer forensik cenderung belum matang,
sangat tidak berimbang dengan teknologi informasi itu sendiri.
Komputer forensik berbeda
dibandingkan forensik pada umumnya, komputer forensik bermaksud mengumpulkan dan
analisis data dari berbagai sumber daya komputer yang dikatakan layak untuk
diajukan dalam sidang pengadilan.
Komputer
forensik terbagi menjadi bagian-bagian:
1. Forensik disk
2. Forensik sistem
3. Forensik jaringan komputer
4. Forensik internet
Komputer forensik menjadi bidang ilmu baru
yang mengkawinkan dua bidang keilmuan, yakni ilmu hukum dan komputer. Secara
umum, kebutuhan komputer forensik dapat digolongkan sebagai berikut :
1.
Keperluan investigasi tindak kriminal dan
perkara pelanggaran hukum
2.
Rekonstruksi duduk perkara insiden
keamanan komputer
3.
Upaya – upaya pemulihan kerusakan sistem
4.
Troubleshooting yang melibatkan hardware
atau software
5.
Keperluan memahami sistem atau berbagai
perangkat digital dengan lebih baik
Ada banyak bidang yang dicakup dan
dikombinasikan dalam forensik, sehingga memunculkan cabang ilmu hibrida.
Berikut contohnya:
1.
Bidang keilmuan fisiologi
2.
Bidang ilmu sosial
3.
Lain – lain keilmuan
4.
Analisis DNA
5.
Forensik yang melibatkan teknologi cyber
Bahkan komputer forensik pun dapat dispesifikasikan
lagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:
1.
Forensik Disk
2.
Forensik Sistem
3.
Forensik Jaringan Komputer
4.
Forensik Internet
Keilmuan forensik disk sudah
terdokumentasi dengan baik dibandingkan forensik sistem, forensik jaringan
komputer atau forensik internet, yang masih terus berkembang. Forensik disk
mencakup kemampuan dalam:
1.
Mendapatkan “bit-stream” image
2.
Penyidik harus mampu mendemonstrasikan
pelaksanaan investigasi dengan aturan dan bukti yang layak
3.
Integritas informasi harus disajikan sehingga
terbukti keabsahannya, sama halnya seperti memandang kelayakan informasi
perihal sidik jari digital
Beberapa yang dimampukan dengan adanya
forensik disk misalnya:
1.
Me-recover file – file yang terhapus,
mendapatkan password dan kunci kriptografi
2.
Menganalisis apakah ada akses file,
modifikasi suatu file dan bagaimana, kapan dan bilamana file dibuat
3.
Menganalisis dan memanfaatkan aplikasi
System Logs dan Log Software. Dengan demikian, aktivitas pengguna dapat dilacak
Berikut adalah beberapa perangkat yang
dapat digunankan:
1.
Encase
2.
Pasadena atau Safeback
3.
Linux DD
4.
Coroners Tool Kit (CTK)
Ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan
dalam menerapkan komputer forensik secara umum, antara lain :
1.
Prinsip (Principle)
2.
Kebijakan (Policy)
3.
Prosedur atau metode (Prosedure)
Ketiga hal utama tadi dilaksanakan dengan
berbagai peralatan yang tidak hanya selalu menggunakan komputer. Perangkat –
perangkat forensik pada umumnya mungkin digunakan dalam komputer forensik,
sebagai cara pemberlakuan suatu bukti, misalnya seperti digunakannya:
1.
Notepad (buku catatan)
2.
Kamera
3.
Sketsa (Sketchpad)
4.
Formulir (evidence form)
5.
Crime scane tape
6.
Spidol
Berbagai peralatan dan perlengkapan yang
mungkin digunakan dalam ruang lingkum electronic crime scane dapat dibagi ke
dalam beberapa bagian sebagai berikut:
1.
Peralatan dokumentasi (documentation tool)
2.
Perkakas/toolkit (disassembly and removal
tool)
3.
Pengepakan (package and transport
supplies)
4.
Perlangkapan lain sebagai pendukung
Penggunaan komputer forensik dalam suatu
investigasi mengidentifikasi berbagai bukti dan atribut yang dibagi dalam
kontek kejahatan yang terjadi, seperti:
1.
Penipuan lelang (auction fraud)
2.
Eksploitasi dan pelecehan anak-anak
3.
Kejahatan komputer
4.
Investigasi penyebab kematian
5.
Kekerasan rumah tangga
6.
Penipuan keuangan
7.
Pemerasan
8.
Perjudian
9.
Pencurian identitas
10. Narkotika
11. Prostitusi
12. Pembajakan
perangkat lunak (software piracy)
13. Penipuan
yang melibatkan media telekomunikasi
Sebagai catatan, informasi tadi harus
didokumntasikan jika memungkinkan dan beberapa informasi yang lain yang
ditambahkan kemudian untuk membantu dalam uji forensik antara lain :
1.
Ringkasan kasus
2.
Internet Protocol address
3.
Daftar kata-kata kunci
4.
Nickname
5.
Password
6.
Informasi kontak
7.
Dokumen pendukung lainnya
8.
Jenis kejahatan
Ada tiga hal utama yang perlu
diperhatikan dalam menerapkan komputer forensik secara umum, tiga hal ini
dipertimbangkan terlepas dari apakan komputer forensi diterapkan karena
kebutuhan forensik hukum atau kebutuhan lain terkait sumber daya teknologi
informasi, diantaranya:
1. Prinsip
Prinsip berarti peralatan yang
digunakan untuk mengumpulkan bukti dan juga keahlian pakar dalam melakukan
analisis.
2. Kebijakan
Mempertimbangkan kebijakan dalam
menggunakan peralatan dan bukti untuk keperluan investigasi.
3. Prosedur
Merancang prosedur agar peralatan
dapat mengumpulkan bukti digital.
Karena komputer forensik memiliki
sifat yang sangat “lentur” (kelenturan logika) dan faktor tidak kasatmata, maka
untuk mendapatkan bukti yang layak diajukan harus memenuhi 3 kriteria: sistem
yang terpercaya, bekerja dalam laboratorium yang aman dan bebas virus, kondisi
lingkungan terisolasi.
Bukti
juga harus ditangani sedemikian rupa dengan mempertimbangkan antara lain:
1. Dokumentasi
Memotret perangkat yang dimaksud
untuk keperluan forensik.
2. Cara menangani bukti
Dalam memindahkan perangkat harus
diperhatikan agar jangan sampai terpengaruh panas, benda magnetis, atau faktor
fisik yang merusaknya.
3. Log komputer
Log komputer adalah catatan
aktivitas dari pengguna komputer yang terekam, baik itu tentang file,
login-logout, history web browser, bookmark, note, email, file temporer, dan
sebagainya.
Untuk mengidentifikasi bukti dan
atribut dalam sebuah kasus, petugas investigasi perlu menguasai apa yang
dibutuhkan untuk mengangani kejahatan yang terjadi. Karena setiap kejahatan
memerlukan tindak identifikasi komputer forensik yang berbeda.
BAB 2
PERANGKAT KOMPUTER FORENSIK
Komputer forensic tidak terlepas
dari berbagai perangkat teknologi informasi yang umumnya digunakan dan juga
mengandalkan perangkat lunak yang ditujukan secara khusus untuk kemudahan
proses forensic. Meskioun demikian, Anda bias saja menggunakan perangkat lunak
dan utilitas pada umumnya, atau bahkan membuat sendiri aplikasi untuk kebutuhan
forensic.
2.1 Komponen Komputer dan Informasi
Forensik computer
diimplementasikan pada computer dan berbagai sumber daya informasi secara
global (teknologi komunikasi dan informasi). Komponen yang dimaksud antara
lain:
1.
Hardware
(perangkat keras) dimana mencakup:
a.
Input
device (Perangkat masukan)
Input
device, memaksudkan perangkat yang diintegrasikan dalam system computer yang
memungkinkan kita memberikan instruksi pada computer. Beberapa yang dikategorikan
ke dalam alat input adalah:
·
Keyboard.
·
Mouse.
·
Trackball.
·
Trackpoint.
·
Trackpad/touchpad.
·
Touchscreen.
·
Joystick.
·
Source
data automation.
·
Scanner.
·
Webcam.
·
Kartu.
·
Biometric
peripheral.
b.
Output
device (Perangkat keluaran)
Output
device, digunakan untuk melihat hasil dari eksekusi; instruksi yang diberikan
pada computer akan diproses dan ditampilkan melalui output device. Beberapa
yang dkategorikan ke dalam alat output antara lain:
·
Monitor.
·
Printer:
o
Impact
printer.
o
Non-impact
printer.
·
Plotter.
·
Speaker.
·
Video
output.
·
Microfilm.
Storage device atau
media penyimpanan, istilah ini mengacu pada media penyimpanan sekunder
(secondary storage device). Ada banyak istilah mengacu pada media penyimpanan
sekunder, antara lain:
·
Mass
storage.
·
Simpanan
luar.
·
Auxiliary
storage.
·
Permanen
storage.
·
Backing
storage.
·
Computer
data bank.
Secondary storage
umumnya digolongkan ke dalam dua bagian, yaitu Sequential access storage device
(SASD) dan Direct access storage device (DASD).
Perubahan teknologi
memang tidak selalu berpengaruh terhadap forensic. Mengapa? Karena dalam forensic
kita menguak fakta, bukan teknologi.
Yang lain lagi dari
komponen inti pembangun system computer adalah CPU ( Central Processing Unit).
CPU dalam konteks ini sering disebut sebagai mikroprosesor karena “minimnya”
prosesor yang menyusun computer mikro, berbeda dengan mainframe yang terdiri
dari banyak prosesor.
CPU dapat kita
golongkan ke dalam beberapa bagian, yakni:
·
Control
unit, merupakan pengatur lalu lintas data di dalam CPU.
·
Arithmetic
logic unit, merupakan pemprosesan perhitungan dan perbandingan.
·
Register,
merupakan pencatat/penyimpan data yang akan diproses.
Beberapa factor yang sangat
memengaruhi kinerja CPU antara lain:
·
Register,
umumnya dapat menyimpan 2 bytes informasi.
·
Memori,
dapat digolongkan ke dalam dua bagian, yakni:
o
ROM
(Read-Only Memory).
o
RAM
(Random Access Memory).
·
Komputer
bus
o
Data
bus, untuk mengalirkan data.
o
Address
bus, untuk mengalirkan alamat tujuan data.
o
Control
bus, untuk mengalirkan informasi status peralatan.
o
Ukuran
bus: 16 bit, 32 bit. Makin besar ukuran bus, makin cepat informasi mengalir,
proses makin cepat.
Jenis-jenis system bus:
·
ISA
(Industrial Standard Architecture).
·
PCI
( Peripheral Component Interconnect).
·
AGP
(Acelerate Graphic Port).
·
USB
(Universal Serial Bus).
·
Cache
Memory.
Penting bagi anda memahami dengan
baik komponen-komponen berikut dengan berbagai penamaan/istilah. Komputer
forensic berada pada level atas dari hanya sekedar mengerti computer.
Profesional computer forensic harus memliki ketertarikan yang luar biasa dalam
bidang computer. Salah pemahaman dalam merujuk pada komponen tertentu akan
menimbulkan persepsi yang sama sekali berbeda.
2.
Software
Software atau perangkat lunak
digunakan sebagai mediator dan pemberi instruksi terhadap sumber daya hardware
sehingga dapat dikatakan sebagai satu kesatuan system computer yang berkerja.
Perangkat lunak umumnya digolongkan ke dalam dua bagian, yakni:
·
Perangkat
lunak system.
·
Perangkat
lunak aplikasi.
Berikut contoh pembagian
perangkat lunak berdasarkan anova.org: Word Processing, Text Editing,
Outlining, Pim, Calender, Office Tools, Spreadsheet, Math, Db, System Tools,
Printing, Fonts, Pdf, Image Viewers, graphics, Image Tools, Multimedia, Video,
Hotkeys, Scripting, Online-Only Apps, Web-Dev: Cs, Rss, Ftp, Usenet, P2p/File
Sharing Tools, File Managers, File Utilities, Renamers, Duplicate Finders,
Archive, Synching, Download Tools.
Pengkategorian pun dapat sangat
fleksibel, bergantung cara pandang terhadap aplikasi, misalnya pengategorian
berdasarakn fungsi, dukungan terhadap pekerjaan, pengguna, dan sebagainya.
3.
Brainware
Brainware dalam ruang lingkup
computer forensic tidak melulu dimaksudkan investigator karena ilmu computer
forensic dibutuhkan pula pada organisasi lain. Brainware dalam konteks ini
dapat digolongkan ke dalam tiga bagian ( pembagian ini tidak baku, hanya
didasarkan pada sudut pandang yang berbeda), yaitu:
·
Profesional
IT
·
Insident
Handler
·
Investigator
4.
Database
Database umumnya dikelompokkan ke
dalam dua bagian, digolongkan berdasarkan ketahannya dalam mengorganisasi data.
Database adalah sumber penting dalam megalokasikan data dan menganalisis data.
Bahkan konsep data mining yang dibangun karena kemampuan basis data atau
database menjadi sumber yang bernilai dalam computer forensic untuk menguak
fakta.
5.
Data
dan Informasi
Data mengacu pada kepingan
informasi digital dengan ragam file format. Data umumnya melekat pada berbagai
media penyimpanan, mennjadi satu paket yang tidak terpisahkan.
2.2 Bukti Digital
Bukti yang dimaksudkan dalam kasus
forensic pada umumnya tidak lain adalah informasi dan data. Cara pandangnya
sama saja, tetatpi dalam kasus computer forensic, kita kenal subjek tersebut
sebagai bukti digital (digital evidence). Makin kompleksnya konteks bukti
digital karena factor media yang melekatkan data. Format aka memengaruhi cara
pandang kita terhadap bukti digital, misalnya bukti digital berupa dokumen,
yang umumnya dikategorikan ke dalam tiga bagian, antara lain:
·
Arsip
·
File
Aktif
·
Residul
data
Bukti digital tersebar dalam
berbagai media dan konteksnya. Untuk itu, diperlukan ketelitian yang lebih
daripada sekadar mengklasifikasi data untuk tujuan forensic.
2.2.1
Sistem Komputer
Sistem computer merupakan
berbagai kombinasi dan integrasi komponen-komponen computer untuk menjadikannya
sebagai system yang bekerja. Bahkan akan lain halnya cara pandang kita terhadap
system computer seandainya computer ditempatkan dalam suatu jaringan yang
terkoneksi dengan computer-komputer lain yang memungkinkannya untuk saling
berkomunikasi.
Demikian pula untuk system
computer, ada banyak computer yang dikatakan sebgaian system computer, dan
rane-nya pun sangat beragam, muali dari mainframe/super computer, mini
computer, hingga mikrokomputer, semisal laptop, desktop, PDA, dan berbagai
ubiquitous computer.
Meskipun demikian, bukti-bukti
forensic umumya ditemukan dalam file-file yang disimpan dalam media
penyimpanan, misalnya pada hard disk. Dalam hal ini, file tersebut kita berikan
istilah sebagai user-created files.
2.2.2
User-created Files
User-created files menjadi salah
satu bukti yang sangat penting, di mana seiring dengan aktivitasnya dalam
menggunakan computer, aka nada data yang ditambahkan dan diciptakan, misalnya
user mengorganisasi ativitasnya dalam e-calender, file-file grafik yang
disimpan, atau user menulis rencana dalam aplikasi olah kata, dsb.
Berikut beberapa yang
dikategorikan dalam user-created files: Address books, Auido/video files,
e-calender, database files, dokumen dan file teks, file-file e-mail, file
gambar digital, internet bookmarks/favorites, file spreadsheet, user-protected
files.
Berikut berbagai hal yang dapat
menghambat penggalian dan menemukan bukti pada file:
·
File
terkompresi
·
Salah
menamakan file secara disengaja atau tidak
·
Salah
dalam memberikan file format, secara disengaja atau tidak
·
File
yang diproteksi dengan password
·
Hidden
files
·
File
terenkripsi
·
Steganography
Bukti tidak hanya ditemukan pada
user-created file semata. Seperti dikatakn sebelumnya, bahwa da banyak yang
tersembuni dalam system computer. Bukti perihal computer-created files, mencakup
aktivitas semisal: waktu dan jam menyangkut file tertentu, modifikasi yang
mungkin dilakukan terhadap satu file, penghapusan waktu pengaksesan, memiliki
file tersebut dan berbagai atribut file.
2.2.3
Computer-created Files
Mencakup diantaranya: File backup,
Registry, File log, File configuration, Printer spool files, cookies, Swap
files, Hidden files, File system, History files, File temporer, Tempat file
lainnya, Berbagai data areas, Bad clusters, Computer date, time, and password,
Deleted files, Free space, Partisi yang tersembunyi, Lost clusters, Metadata,
Partisi-partisi lainnya, Reserved areas, Slack space, Software registration
information, Area system, Unallocated space.
Akan dipercontohkan sebagian dari
penggalian terhadap computer-created file dalam kasus Windows registry
keperluan forensic. Kemampuan seperti ini tidak garus anda dapatkan dalam
pembelajaran computer forensic saja. Anda sebagai user yang memiliki interest
yang besar akan computer pastinya memahami konsep dan penanganannya.
2.3
Peralatan Komputer Forensik
2.3.1
Software Forensik
Berikut disajikan untuk anda
berbagai software yang digunakan, mencakup website yang memungkinkan anda
mendapatkan informasi yang menyeluruh akan software tersebut:
·
Intrusion
Detection and Prevention Software
o
ISS
Proventia Enterprise Protectio by Internet Security System (ISS)
(http:/www.iss.net/products/index.html.)
o
Network
packet sniffers and protocol analyzers Packet Strom (http://packetstromsecurity.org/defense/sniff/.)
·
Network
Protocol Analyzers
Anda akan menemukan berbagai
apliaksi gratis dan GLP yakni: Wincap 4.1 Beta 2, IP Sniffer 1.95.0.2.,
SniffPass 1.03, SmartSniff 1.35., Wireshark (formerly Ethereal) 0.99.7, Free
HTTP Sniffer 1.0.
2.3.2 Beragam
Computer and Network Tools
Beragam
utility computer dan jaringan computer di antaranya:
o
Foundstone
(http://www.foundstone.com/index.htm?subnav=resources/navigation.htm&subcontent=/resources/freetools.htm)
o
Open
Source Digital Forensic Analysis tool Categories (http://www.opensourceforensics.org/tools/categories.html.)
2.3.4 Beragam Tool
Komputer Lainnya
Selain
software-software di atas, masih ada beberpa tool computer lainnya, di
anataranya:
2.3.5 Berbagai
Network Tools
Salah satu etwork tools adalah
Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) yang dapat diakases di http://www.cve.mitre.org/compatible/product.html.
2.4 Fakta di Balik Forensik
Sebenarnya dalam menemukan fakta
yang sesungguhnya ini melibatkan kemampuan Anda membaca dan menganalisis data.
Anggap saja beberapa komponene sudah tersaji di depan Anda dan digolongkan
berdasarkan perangkat computer yang digunakan, tinggal bagaimana Anda
menanggapi kumpulan data/informasi spesifik untuk dikelola lebih lanjut.
o
CPU
Bukti
Potensial: Bukti dari tindakan pencurian, Pemalsuan, Tanda-tanda yang teramati
secara fisik.
o
Memori
Bukti
Potensial: Bukti dari tindakan pencurian, Pemalsuan, Tanda-tanda yang terlihat.
o
Access
Control Devices
Bukti
Potensial: identifikasi informasi user, Tingkat akses, Konfigurasi,
Perizininan, Perangkat itu sendiri.
o
Answer
Mechine
Bukti Potensial: Caller
identification information, Pesan-pesan terhapus, Last number called, Memo,
Nama dan nomor telepon, Tape.
o
Kamera
Digital
Bukti Potensial: Images,
Informasi waktu, Removable cartridges, Video, Sound.
o
Handled
Devices
Bukti Potensial: Address book,
Appointment calenders, Dokumen, E-mail, Handwriting, Password, Buku telepon,
Pesan-pesan teks, voice message.
o
Hard
drive
Bukti
Potensial: Yang ada sanga berkaitan dengan system computer secara keseluruhan
dan merupakan komponen utama yang harus diambil sebagai barang bukti.
o
Memory
Card
Bukti Potensial: Memory stick,
Smart card, Flash memory, Flash card.
o
Modem
Bukti
Potensial: Perangkat itu sendiri.
o
LAN
atau NIC
Bukti Potensial: Perangkat itu
sendiri, MAC (Media Access Control) access address.
o
Routers,
hubs, dan switches
Bukti
Potensial: Perangkat itu sendiri
o
Servers
Bukti
Potensial: File, Penyimpanan, Layanan web page, Layanan sumber daya printer
pada jaringan computer.
o
Network
cables and connectors
Bukti
Potensial: Perangkat komponen itu sendiri.
o
Pagers
Bukti
Potensial: Informasi alamat, Pesan teks, E-mail, Voice messages, Nomor Telepon.
o
Printer
Bukti
Potensial: Dokumen, Hard drive, Ink cartridge, Network identity/information,
Superimposed images pada roller, Waktu dan tanggal, Log pengguna.
o
Removable
Storage Devices and Media
Bukti
Potensial: Sudah didefinisikan.
o
Scanner
Bukti
Potensial: Perangkat yang bersangkutan.
o
Telepon
Bukti
Potensial: Appointment calenders, Caller identification information, Electronic
serial number, E-mail, Memo, Password, Buku Telepon, Text messages, Voice mail,
Web browser.
o
Copiers
Bukti
Potensial: Dokumen, Catatan penggunaan, Catatan perlengkapan berkenaan tanggal
dan waktu.
o
Credit
card skimmers
Bukti
Potensial: Tanggal kedaluwarsa, Alamat pemilik, Nomor kartu kredit, Nama
pemilik.
o
Digital
Watches
Bukti
Potensial: Address book, Notes, Appointment calenders, Phone numbers, E-mail.
o
Mesin
facsimile
Bukti
Potensial: Dokumen, Nomor Telepon, Film cartridge, Log
o
GPS
Bukti
Potensial: Rumah, Target selanjutnya, Catatan perjalanan, Jalur koordinat,
JAlur yang ditujuk.
2.5
Fakta Digital Terselubung
Berikut yang harusnya dipahami
oleh onvestigator untuk menangkap factor yang tidak kasatmata dari teknologi
computer berikut system yang terintegrasi di dalamnya:
o
Kebanyakan
pemakai tidak benar-benar menghapus file.
o
Banyak
jejak ditinggalakan dari program aplikasi.
o
Data
“volatile” meskipun tidak tersimpan pada hard disk secara permanen seperti
non-volatile.
o
Data
memang sangat sulit untuk dimusnahkan.
o
File
yang dihapus dapat dengan mudah di-recover.
o
File
yang ditransmisikan melalui jaringan ternyata dengan mudah di-reassembled dan
digunakan sebagai bukti.
o
Formatting
tidak cukup untuk menghapus data-data.
o
Install
aplikasi sangat mudah, tetapi tidak demikian untuk uninstall aplikasi.
o
Menggunakan
encryption tidaklah cukup, data dapat didapatkan kembali melalui decryption.
o
Menggunakan
daya magnet ternyata tidak membuang dan merusak data [ada storage device.
o
Me-rename
file untuk mencegah deteksi keberadaan data/informasi ternyata sama seklai
tidak berarti.
o
Mutilasi
media penyimpanan ternyata tidak efektif, perlu melakukan mutilasi secara
ekstrem.
o
Banyak
software forensic untuk membangun kembali data dan informasi yang telah
dimusnahkan via spftware anti forensic.
o
Web-based
email ternyata dapat di-recover pada computer yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)
